Ditjen HAM Gelar Webinar dengan Tema “Internet Sehat dalam Masa Pandemi Covid-19 di Lingkungan Akademik”

Bagikan

Jakarta, ham.go.id – Pemenuhan Hak Berekspresi dan mengeluarkan pendapat dikemas melalui edukasi Internet Sehat di dalam Masa Pandemi Covid-19 di Lingkungan Akademik, Ditjen Ham menggelar Webinar dengan menggandeng Universitas Bosowa, Sulawesi Selatan. Tidak kurang dari 70 peserta mengikuti kegiatan webinar Pelaksanaan Internet Sehat dalam Masa Pandemi Covid-19 di Lingkungan Akademik, Kamis (25/6).

Direktur Jenderal HAM, Mualimin Abdi berkesempatan menyampaikan keynote speech pada kegiatan yang terlaksana atas kerja sama antara Kementerian Hukum dan HAM dan FNF juga dalam hal ini Direktorat Jenderal HAM menggandeng Universitas Bosowa dalam penyelenggaraannya.
Dalam pidatonya, Mualimin menyatakan keprihatinannya atas sebaran hoax yang kian marak di internet dan dikonsumsi masyarakat. Padahal, kata Mualimin, hoax telah memberikan pengaruh negatif terhadap integrasi bangsa.

Lebih lanjut Mualimin menilai faktor literasi menjadi faktor penting untuk melawan hoax. “Hal ini terutama karena tingkat literasi masyarakat di tanah air masih sangat rendah,” ucap Mualimin. Internet pada era pandemik maupun dalam new normal tingkat penggunaannya semakin meningkat karena dengan akses “kesendirian” dapat dilakukan saat “kesendirian di kamar, di ruang kantor, bahkan dapat dilakukan di kamar mandi sekalipun artinya tidak ada batasannya mungkin hanya sinyal yang membatasi dan seperti yang kita ketahui bahwa penggunaan akses internet semakin meningkat maka jika tidak secara bijaksana dan sehat penggunaan internet akan memberikan dampak negatif seperti ujaran kebencian.

Dalam kesempatan ini, Mualimin berpesan agar jajaran civitas academic Universitas Bosowa untuk tidak berdiam diri menghadapi maraknya hoax. “Saya mengajak kepada kita semua untuk bersama-sama memperbaiki literasi dan sikap kritis dalam menyikapi disinformasi dan hoax yang ada di sekitar kita,” imbuh Mualimin.

Sementara Direktur Kerja Sama HAM, Bambang Iriana Djajaatmadja, yang menjadi narasumber pada kegiatan pagi ini menjelaskan urgensi edukasi internet sehat untuk digalakan di kalangan anak-anak muda. “Seminar ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan literasi pada masyarakat khususnya generasi muda sebagai pihak yang pling banyak menggunakan media internet,” ujar Bambang. Sebagaimana yang disampaikan Direktur Jenderal HAM, Bambang meyakink selain menyajikan informasi yang positif, internet bisa juga memberikan potensi negatif. “Dengan internet sehat, harapan kita masyarakat memanfaatkan aspek positif dari internet,” imbuh Bambang.

Pada webinar kali ini selain Direktur Kerja Sama, panitia juga mengundang tiga pembicara lainnya yaitu Dekan FISIP Universitas Bosowa, Arief Wicaksono; Dosen Antropologi Universitas Hasanudin, Tasrifin; dan aktivis Mafindo, Afwan Purwanto. Arief Wicaksono mengapresiasi kegiatan webinar ini. Senada dengan Direktur Kerja Sama HAM, Arief menilai kalangan akademik merupakan elemen masyarakat yang cukup rentan terpengaruh hoax. “Kondisi ini menjadi tantangan bagi kami di kalangan akademik untuk menghidupkan kembali kultur akademik di era disrupsi informasi,” kata Arief.

Pada kesempatan ini, Afwan Purwanto menawarkan tips sederhana melawan hoax. “Prinsip dasar melawan hoax adalah skeptis, jangan selalu langsung terima kemudian share ketika menerima informasi,” ucap Afwan. Webinar yang didukung oleh Friedrich Naumann Foundation ini merupakan kali kedua yang dilaksanakan. Sebelumnya, kegiatan dengan tema serupa juga diselenggarakan di Politeknik Ilmu Pemasyarakatan beberapa waktu silam. (Humas Ditjen HAM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Skip to content