Capacity Building: Inclusive, Sustainable, and Climate-Resilient Cities

Bagikan

Lund, Swedia, ham.go.id – Direktorat Jenderal HAM mengikuti kegiatan “Capacity Building: Inclusive, Sustainable, and Climate- Resilient Cities”, Lund, Swedia. (2-13/9).

Bertempat di Ideon Square, Swedia (2/9) Peserta dari Indonesia, Turki, dan Zimbabwe diterima oleh Asosiasi Pengajar di Lund University, Swedia dan Mentor dari Raoul Wallenberg Institute (RWI) untuk mengikuti “Capacity Building: Inclusive, Sustainable, and Climate- Resilient Cities” yang dilaksanakan pada tanggal 2 sd. 13 September 2019.

Delegasi dari Indonesia antara lain;  Kasubdit Kerja Sama Luar Negeri Andi Taletting Langi; Pemerintah Daerah Sumbawa, Dony Triwardana,: Akademisi Universitas Teknik Sumbawa, Nurul Izzati; dan Akademisi Universitas Teknologi Sumbawa, Provinsi NTB, Mega Trishuta Pathiassana. Dalam Kesempatan yang baik tersebut, peserta Indonesia mempresentasikan “Change Project” sebagai tindak lanjut dari study online yang telah dilakukan sejak bulan Mei s.d. Juli 2019.

Delegasi dari Indonesia Andi Talleting Langi mengatakan “Kegiatan yang berlangsung kurang lebih selama 2 minggu ini di isi dengan pembelajaran dan field work, yaitu tidak hanya belajar kuliah atau teoritis namun juga melakukan praktik yang di sebut ‘learning by walking”, ujarnya.

Serangkaian kuliah singkat yang memberi gambaran tentang rancangan urban yang sebenarnya sedang dan telah dilakukan oleh Pemerintah Lokal di kota Lund. Setelah melakukan kuliah singkat, maka dilanjutkan dengan learning by walking, ini penting, mengingat  tujuan untuk mengembangkan proyek perubahan yang inovatif perlu banyak mencari inspirasi. Salah satunya adalah dengan berjalan dan berbincang, karena itu dapat melatih kita  untuk melihat kota dengan perspektif baru.

Kuliah singkat ini banyak membahas tantangan umum terkait dengan pembangunan kota berkelanjutan. Selain itu dengan melakukan learning by walking, akan memberikan banyak waktu untuk interaksi dan berbagi pengalaman antar  negara sesama peserta. Learning by walking selain menginspirasi, juga meningkatkan pengetahuan dan pemahaman  di berbagai disiplin ilmu tentang bagaimana tantangan urban saat ini dapat dihadapi dan membantu mengidentifikasi setiap masalah dan solusinya.

Kuliah tentang ruang publik perkotaan terdapat perspektif yang berbeda tentang peran ruang publik untuk masyarakat inklusif. Dimulai kegiatan dengan workshop tentang cara memvisualisasikan ide proyek perubahan adalah cara untuk mengekstraksi dalam membuat maksud dan tujuan kegiatan proyek perubahan, untuk mengembangkan ide proyek, dan juga cara yang dapat digunakan untuk mengkomunikasikan proyek perubahan ini kepada orang lain. Visualisasi itu dibuat dalam sebuah poster sesuai dengan tahapan visualisasi yang diberikan.  Delegasi tim Indonesia, poster dengan tagline PARADISE (Paint Your Amazing Life and Save Environment) dalam proyek perubahan WASTE MANAGEMENT.

Progam selanjutnya adalah konferensi mini di mana ruang publik akan dibahas dari berbagai perspektif disipliner. Konferensi mini ini dilakukan dengan menyoroti berbagai contoh konflik dan solusi untuk penggunaan ruang publik dari seluruh dunia.

Sebagai pembicara dan tema adalah sebagai berikut:

  1. Maria Andrea Nardi, (The Relevance of Public spaces in the cities : a geographical and human rights approach).
  2. Ilhami Allan Olsson, (Conflicts over public space – the Gezi Park Istanbul Turkey)
  3. Lovisa Brännsted, (Public Space in Historical perspective)
  4. Ana Maria Vargas Falla, (Access to public space – Street Vendors in Colombia)
  5. Björn Wickenberg, (Public soace governance in a Swedish city – needs, challenges and different planning approaches).
  6. Ana Nordberg, (Public spaces, human rights in the interface between the physical and digital).

Pada sesi terakhir di minggu pertama tentang “Human Rights Cities” Kota HAM menjadi salah satu perkembangan sangat penting akhir-akhir ini, terutama terkait dengan pemenuhan hak asasi manusia. Konsep Kota HAM tidak saja menyatakan pengakuan atas penghormatan HAM, tetapi juga sebagai kerangka pelaksanaan penghormatan HAM oleh pemerintah daerah (pemda). Tujuan Kota HAM, untuk menciptakan tata kelola HAM pada tataran pemerintah lokal. Targetnya adalah memperbaiki kualitas kehidupan masyarakat berdasarkan norma dan standar HAM dalam merealisasikan pemenuhan HAM di seluruh dunia.

Kegiatan di minggu ke dua yaitu lebih fokus ke Proyek Perubahan, pengembangan proyek perubahan kembali dilakukan untuk penyempurnaan. Dengan mempertimbangan situasi dan kondisi pasca field work, delegasi Indonesia dengan proyek perubahannya “PARADISE”–  Waste Management yang mengambil lokasi di kota Sumbawa,  membenahi proyek tersebut dengan menggunakan “Business Model Canvas”.  Dalam Business Model Canvas  ini perlu melihat 9 kriteria agar proyek yang dibuat dalam berjalan dengan baik, antara lain: Proposisi nilai (value Proposition), segmen pelanggan (customer segment), saluran (channel), hubungan pelanggan (customer relationship), model pendapatan (revenue model), Sumber utama (key resources), Mitra utama dan penyaluran (key partner and supply), Kegiatan (activities), dan biaya (cost).

Kegiatan kunjungan ini bertujuan untuk melihat jenis proyek pembangunan kota di Malmo. Malmo adalah salah satu kota besar di Swedia dan juga kota pelajar terbesar serta memliki Universitas tertua di Skandinavia.

Aksesibilitas untuk semua lansia dan penyandang disabilitas serta orang berkebutuhan khusus. Aksesibilitas dalam tingkat makro dimana memberikan orang-orang tersebut dapat mengakses tempat-tempat tujuan dengan manajemen waktu dan upayanya. Sedangkan, aksesibilitas dalam tingkat mikro, memberikan orang-orang tersebut dapat mengakses tempat-tempat tujuan tersebut berdasarkan kebutuhan tersedia berdasarkan dukungan lingkungan yang dibangun, seperti bangunan yang ramah bagi disabilitas.

Sesi Kepemimpinan yang berkelanjutan ini mendiskusikan Sustainable Leadership atau Kepemimpinan yang berkelanjutan  dengan mengacu pada perilaku, praktik, visi, dan sistem yang menciptakan nilai tambah bagi semua pemangku kepentingan organisasi termasuk investor, lingkungan, spesies lain, generasi masa depan, dan masyarakat.

Sesi terakhir dengan merampungkan proyek perubahan masing-masing grup termasuk Indonesia. Dengan proyek Waste Management, grup Delegasi Indonesia menyampaikan baik secara visualisasi maupun penyusunan proposal maupun estimasi anggaran agar proyek ini dapat terealisasi sampai dengan batas waktu pada tanggal 20 Desember 2019. Sesi Capacity Building: Inclusive, Sustainable, and Climate- Resilient Cities  ditutup dengan farewell dinner oleh Lund University Commissioned Education (LUCE). (sa)

Skip to content