SONITA: SEBUAH REFLEKSI PEMBERONTAKAN MELAWAN DISKRIMINASI GENDER

Bagikan

Jakarta, ham.go.id – Direktur Informasi HAM, Suparno, mewakili Direktur Jenderal HAM menjadi salah satu panelis dalam pemutaran film Sonita pada 100% Manusia Film Festival edisi kedua di Jakarta, Jumat (21/9). Pemutaran Film berjalan selama 1,5 jam dan diikuti dengan sesi tanya jawab yang diisi oleh tiga orang panelis (salah satunya Suparno, Direktur Infromasi HAM) dan dua panelis lainnya yaitu Indrayati Suparno, perwakilan dari Komnas Perempuan serta Menina Wismurti yaitu dari kalangan sineas muda Film Programmer 100% Manusia Film Festival.

Sonita merupakan film documenter yang menggambarkan kisah hidup seorang perempuan berusia 14 tahun yang bernama Sonita. Ia bukanlah gadis biasa, Sonita merupakan salah satu pengungsi Afghanistan yang tinggal di Iran dan memiliki mimpi menjadi seorang penyanyi “rapper” terkenal tetapi terkungkung dalam budaya patriarki dimana pemerintah Iran melarang perempuan untuk bernyanyi dan mengeskpresikan diri di hadapan public. Setelah orang tua kandungnya berusaha menjual Sonita sebagai calon mempelai perempuan, untuk menyalurkan rasa frustasi dan mengubah jalan hidupnya kemudian ia melakukan pemberontakan dengan music rap nya. Dengan mikrofon di tangan, ia melontarkan kalimat-kalimat sarkastik berima melawan tekanan tradisi.

Dari film ini ada beberapa poin penting yang disampaikan oleh Suparno: bahwa negara harus hadir dan memiliki kewajiban penuh dalam melindungi hak anak dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan sesuai dengan Konvensi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan (Convention on the Elimination of all Forms of Discrimantion Against Women) dan Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child) yang telah diratifikasi negara. Pemerintah melalui RANHAM akan saling bersinergi guna meminimalisir peristiwa yang digambarkan dari film Sonita terjadi di negara kita.

Sekilas tentang Festival

100% Manusia Film Festival adalah festival pemutaran film yang mengusung tema hak asasi manusia dan keberagaman yang meliputi isu gender, minoritas dan difabel. Selain pemutaran fim, festival ini juga mengadakan diskusi pendek setelah pemutaran film, talkshow, book launch dan exhibition. Tujuan dari festival ini adalah untuk mendorong pemahaman di dalam masyarakat mengenai isu hak asasi manusia dan keberagaman melalui audiovisual, seni dan budaya. Tahun 2018 merupakan penyelenggaraan kedua dengan mengangkat tema inklusivitas (inclusivity), dimana di balik perbedaan latar belakang setiap individu sesungguhnya semua setara dan bisa hidup berdampingan.

 

Skip to content