Diskusi Publik Dalam Rangka Hari Air Dunia Tahun 2016

Bagikan

Indonesia dikarunia potensi air yang cukup besar, Indonesia memiliki potensi 6% air dunia atau setara dengan 21% di Asia Pasifik. Yang menjadi sumber air bersih di Indonesia, yaitu: sungai, air hujan dan air tanah. Ironisnya Indonesia dari tahun ke tahun selalu mengalami krisis air baik secara kualitas maupun kuantitas. Eksploitasi air yang tidak terkendali dan maraknya pencemaran menjadi penyebab krisis air yang paling menonjol. Eksploitasi air tanah selain menguras air tanah juga menyebabkan turunnya permukaan tanah.

Jakarta memegang rekor tertinggi di dunia dalam penurunan permukaan tanah, di atas Mexico City, Yokohama dan Bangkok, Jakarta mengalami penurunan permukaan tanah sekitar 10,8 cm pertahun. Di pesisir Jakarta Utara penurunan permukaan tanah sekitar 28 cm pertahun. Penurunan permukaan tanah ini juga disebabkan oleh aktifitas tektonik. Melihat kondisi tersebut perlu penanganan dan antisipasi yang serius agar tidak semakin memburuk.

Pada tahun 2050 diperkirakan permukaan air laut dapat mencapai wilayah Harmoni sehingga ke 13 sungai yang melewati jakarta tidak dapat mengalirkan air ke laut dengan lancar. Pencemaran juga menjadi masalah bagi ketersediaan air bersih. 60% sungai di Indonesia sudah tercemar menurut kementerian kesehatan oleh bahan organik maupun bakteri penyebab diare dan ini biasanya banyak terjadi diperkotaan. Tiga belas sungai di Jakarta 70% air tanah tercemar bakteri E-coli. Tingginya pencemaran menyebabkan banyaknya masyarakat yang tidak bisa mengakses air bersih. Data bank dunia tahun 2006 dari 230 juta penduduk Indonesia baru 47% yang memiliki akses air bersih, hal ini artinya lebih dari 1/2 penduduk Indonesia kesulitan mengakses air bersihdan hidup dalam lingkungan yang tidak sehat.

Bertepatan dengan Hari Air Dunia yang setiap tahun diperingati pada tanggal 22 Maret, Tempo Media Group mengadakan Diskusi Publik dengan Tema “Menghadapi Tantangan Krisis Air Perkotaan”, pada tanggal 22 Maret 2016 yang bertempat di Ruang Balai Agung, Balaikota DKI Jakarta. Dalam acara tersebut Gubernur DKI Jakarta Ir. Basuki Tjahaja Purnama sebagai Keynote Speaker. Beliau menyampaikan bahwa kita mengalami kesulitan air, hal itu bisa terjadi karena ketiga belas sungai yang mengelilingi Jakarta belum dimanfaatkan secara optimal. Ir. Basuki Tjahaja Purnama menyayangkan kelebihan yang dimiliki tersebut tidak dibarengi pengelolahan air air bersih yang baik. Permasalahan air yang sudah berlarut-larut ini perlu adanya kesadaran dari masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai-sungai yang melintasi Jakarta, antara lain dengan tidak membuang sampah di sungai.

Selain Gubernur DKI Jakarta juga hadir narasumber lain seperti Direktur Utama PAM Jaya beserta jajarannya dan Direksi Tempo Group. Erlan Hidayat selaku Direktur Utama PAM Jaya mengatakan bahwa kebutuhan air di Jakarta hanya terpenuhi 60% dari ketiga belas sungai yang melewati Jakarta, sisanya 40% dipenuhi dengan memanfaatkan air tanah yang kualitas kebersihan airnya pun kurang terjamin. Dengan kota yang terus berkembang tugas kita sekarang adalah membuat air bersih yang banyak dengan mempercepat realisasi Instalasi Pengelolaan Air Bekasi. Hal tersebut akan sangat membantu karena akan ada penambahan 17.600 unit.

Hari air merupakan momentum membangkitkan kesadaran bahwa kualitas dan ketersediaan air terutama air bersih harus dijaga demi kepentingan dan kebutuhan kita bersama serta generasi anak cucu kita. (Ek)

Skip to content