Dari Rencana Biodiesel Hingga Pelanggaran HAM

Bagikan

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Ferri Irawan, Ketua Perkumpulan Hijau Jambi menilai pemikiran Sofyan yang ingin menolong petani sawit dengan mewajibkan pembauran biodiesel untuk campuran solar adalah salah kaprah. Katanya perkebunan sawit justru akan menimbulkan banyak masalah, mulai dari masalah lingkungan, sosial, pangan, hingga pelanggaran HAM akibat konflik lahan.
Di Jambi sendiri, memiliki sejarah buruk dengan pengeolaan perkebunan sawit oleh perusahaan. Kata Ferri, banyak tindak kekerasan pada masyarakat umum akibat konflik lahan yang melibatkan pihak perusahaan. Misalnya saja kasus perusahaan Asiatic pada 2011-2013 di Batanghari, dan juga perusahaan Sinar Mas di Sarolangun pada 2008.
Dengan adanya kewajiban pembauran 15 persen biodiesel untuk solar, tak dipungkiri lagi, akan mendorong banyak perusahaan besar membuka ekspansi untuk perkebunan sawit. Padahal luas perkebunan sawit di Indonesia saat ini, mencapai lebih dari 13 juta hektare.
“Akan semakin banyak perusahaan yang buka perkebunan sawit, dan itu akan menimbulkan banyak konflik dengan masyarakat,” tuturnya saat dihubungi via telepon, Selasa (7/4).
Selain itu, katanya penggunaan bahan bakar nabati dari minyak sawit akan mendorong terjadinya alih fungsi lahan. Banyak kawasan hutan yang nantinya akan berubah menjadi perkebunan sawit.
Mirisnya lagi, akan ada banyak lahan pangan yang beralih fungsi menjadi perkebunan, sebab masyarakat juga akan ikut menanam sawit.
“Nanti lama-lama sawah juga akan berubah menjadi kebun sawit. Padahal pemerintah sendiri punya program swasembada pangan, ini kan tabrakan dengan tujuan pemerintah,” tegas Ferri.

http://jambi.tribunnews.com/2015/04/07/dari-rencana-biodiesel-hingga-pelanggaran-ham

Skip to content